Hilangnya Kesejatian Hidup
Oleh: Rm Benny Susetyo
Hilangnya kesejatian hidup, membuat orientasi hidup berbangsa dan
bernegara kehilangan arah dan tujuan. Ini membuat tiap hari kita
disuguhi fenomena kekerasan dan hancurnya keadaban hukum. Hukum tidak
berdaya karena di penjara oleh capital. Orientasi pemegang " kekuasaan "
tak berdaya dalam lingkaran kepedulian, hanya memikirkan kepentingan
untuk memperkaya diri. Kekuasaan tidak digunakan umtuk membantu orang
kecil berdaya dalam kehidupan. Nasib orang kecil kian menderita, karena
berbagai kebijakan yang dilahirkan hanya menjadikannya obyek dan
akhirnya sebagai korban.
Mengapa kita sulit ber-empati terhadap penderitaan orang lain dan terus
mengagungkan diri seolah telah membantu, padahal nyatanya menistanya?.
Jawabnya: Karena proses pencarian makna kesejatian hidup berhenti,
bahkan hilang dalam proses kehidupan ini. Solidaritas social memudar dan
tergantikan dengan ikatan-ikatan formal dalam kerangka materialistik.
Manusia kian lemah, artinya karena tergerus ikatan material.
" Hukum jual beli " lebih penting daripada nilai kemanusiaan dalam
solidaritassosial. Ada uang ada barang. Pelan-pelan kia sering
menistakan manusia karena kemiskinan dan tidak layak bergaul dengan kita.
Mempunyai sahabat kaya, lebih membanggakan daripada berelasi dan
berempati dengan orang miskin. Kaum miskian kian terpinggirkan dan
tergerus arus. Yang kaya tetap merasa miskin. Yang berkuasa tetap merasa
masih memiliki jabatan rendah. Empati terhadap penderitaan,dianggap
sebagai nilai yang tak berguina.Ruang untuk kembali memperkuat
solidaritas social melalui proses empati ini jusru kian menyempit. Kita
menuup ruang-ruang untuk mempelajari makna kesejatian hidup. Hidup untuk
siapa, dengan cara apa dan bagaimana. Yang kaya kian jaya, yang
menderita tetap menderita.
Para elitenya bermentalkan kepiting. Untuk selamat dalam jebakan, dia
harus menginjak-injak orang lain. Untuk memperoleh jabatan dan kekayaan,
dia harus menghabisi orang lain. Dalam konteks lebih luas, rakyat
dinistakan karena sumber alamnya diberikan begitu saja kepada modal.
Bukankah alam yang diciptakan Tuhanadalah demi kesejahteraan bersama?
Mengapa tiba- tiba kini dijadikan sebagai " privat " dan diserahkan
kepada sebagian orang bermodal?
Kekuasaan Uang
Ketika aspek materi menjadi penguasa dalam hidup dan mendominasi
perilaku sehari-hari, seketika itulah kesejatian hidup mulai luntur.Tak
ada saudara, tak ada warga sebangsa. Semua yang ada dalm pandangannya
adalah musuh.
Dalam hiruk-pikuk kehidupan semua serba berpikir, jika bukan " kami "
yang menguasai tentu " mereka " yang mendapatkan. Kini semua orang
nyaris berpikir demikain. Tanpa disadari, itulah yang makin memperlemah
kesejatian hidup.
Uang menjadi penentu segalanya. Nilai kemausiaan kehilangan maknanya
sebagai basis perilaku masa depan. Hari-hari kita menghadapi kesuraman,
sebab nilai kemanusiaan tidak lagi dijadikan acuan bertindak, dan lebih
ironis karena selain itu, kemanusiaan mulai dihancurkan. Rakyat kembali
tersalib dalam duka dan kecemasan masa depannya. Elite politik dan
parlemen terlalu sering berkhianatdan berselingkuh atas nama " politik
kesejahteraan ". Hari-hari rakyat dipermainkan oleh perilaku penguasa
yang seolah berbicara atas nama " kepantasan politik ". Namun mulutnya
penuh busa-busa pembualan.
Musnahnya Kesejatian Hidup
Doa dan persembahan menurutnya bisa menutupi segala tipu daya yang
dilakukan. Rakyat harus dikornankan atas nama " pembangunan ".Tanpa
empati atas penderitaan, mencandra dengan nurani, terlalu banyak
kebijakan yang mengorbankan nasib rakyat.Rakyat dikubur dalam jurang
terdalam kehinaan, karena daulat ekonomi tidak lagi dijadikan pilihan
dalam bertindak, bernalar dan berpikir. Daulat ekonomi digadaikan atas
nama " investasi ". Inilah tragedi makin musnahnya " kesejatian hidup "
dalam hubungan bermasyarakat dan brnegara.
Lalu, sampai kapan negara dan mereka-mereka yang berada di balik
kebiojsakan ini menyadarinya, mau mendengar kritik dan yang lebih
penting mengubah situasi ini.
|